Masjid Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari akan Gunakan Gaya Arsitektur Vernakular

Banuaterkini.com - Kamis, 8 Desember 2022 | 08:25 WIB

Post View : 426

Gambar rencana pembangunan Masjid Raya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang bakal menjadi salah satu ikon kebanggan masyarakat Kalsel di Banjarbaru. Foto Dinas PUPR Kalsel/Puput.
images (4)

Laporan: A. Kusairi l Editor: DR MDQ

Tidak seperti Masjid Raya Sabilal Muhtadin dan kebanyakan masjid lainnya di Indonesia yang mengadopsi gaya Timur Tengah, gaya arsitektur Masjid Raya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari akan menggunakan gaya arsitektur Vernakular dengan sentuhan kekinian.

Banjarbaru, Banuaterkini.com – Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalsel, Ahmad Solhan, menyebutkan bahwa rencana pembangunan Masjid Raya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari tidak seperti kebanyakan masjid yang dibangun sekarang, yang lebih banyak menggunakan gaya Timur Tengah.

Masjid Raya itu nantinya, akan banyak menggunakan sentuhan arsitektur modern dengan kombinasi gaya arsitektur Vernakular Banjar, yang terkesan sederhana tetapi memiliki filosofi yang tinggi sebagai upaya melestarikan nilai-nilai kearifan lokal Banjar.

Pembangunan masjid tersebut, ujar Solhan, akan menggunakan perpaduan limas dengan tumpeng tiga dengan simbol dari burung enggang yang bertengger di atas pohon hayat.

Disaksikan Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor, Ketua DPRD Kalsel H Supian HK dan sejumlah tokoh agama dan masyarakat, Kepala Dinas PUPR Kalsel, Ahmad Solhan, turut meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Raya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Foto: Dinas PUPR Kalsel/Puput.

Penelurusan Banuaterkini.com, Limas atau Palimasan sendiri merupakan salah satu gaya atau arsitektur bangunan rumah adat Banjar yang banyak ditemukan di berbagai kawasan di Kalimantan Selatan, kebanyakan di Martapura dan Amuntai.

Baca Juga :  Pengurus Pusat LKSA Pusat Dilantik, Zairullah: Kita Ingin Anak Yatim Indonesia Sejahtera

Pada rumah adat Banjar jenis ini, semua bagian atapnya menggunakan atap perisai, sehingga membentuk atap limas.

Berdasarkan sejumlah literatur disebutkan, bahwa Rumah Palimasan memiliki ciri antara lain, memiliki atap perisai, berbentuk persegi panjang, tangga masuk dari muka ke pelataran dalam.

Bangunan jenis ini juga memiliki hiasan berbentuk jamang, tidak adanya panapih atau kayu yang diukir yang dipasang sekeliling bawah bangunan, namun memiliki palipis atau papan lisplang yang dipasang mengelilingi cucur atap pada rumah.

Dari catatan yang ditemukan, Rumah Palimasan biasanya ditinggali oleh para bendaharawan istana/kerajaan yang ditugaskan untuk menjaga harta kerajaan, seperti emas dan perak.

Namun dari sumber lain juga ada yang mengatakan tipe rumah ini didiami oleh para alim ulama tokoh masyarakat dalam lingkup kerajaan Banjar pada saat itu.

Kepala Dinas PUPR Kalsel Ir Ahmad Solhan ST MT, memperhatikan gambar rencana pembangunan Masjid Raya Syekh Muhammad Arsya Al Banjari, Rabu (07/12/2022). Foto: Dinas PUPR Kalsel/Puput.

“Masjid Raya ini nanti menggunakan desain arsitektur vernakular, yaitu gaya arsitektur tradisional dengan sentuhan arstiektur modern,” papar Ahmad Solhan kepada Banuaterkini.com, Rabu (07/12/2022) usai peletakan batu pertama Masjid Raya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Menurut Solhan, itulah yang membuat Masjid Raya ini nantinya menjadi unik dan menarik sehingga bisa menjzdi ikon baru keberagamaan di Kalsel, karena mengadaptasi lingkungan kawasan Perkantoran Pemprov Kalsel yang memang memaksimalkan ruang terbuka hijau.

Baca Juga :  Walikota Banjarbaru Ajak Warga Saling Jaga Kerukunan dan Toleransi

Lebih lanjut, mantan Kadis PUPR Kabupaten Banjar ini juga menguraikan, sebagai masjid yang dibangun di kawasan tropis seperti halnya Kota Banjarbaru, prinsip desain bangunan Masjid Raya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari nantinya menggunakan konsep bangunan tropis atau berbasis green building yang ramah lingkungan.

Pada bangunan Masjid Raya, lanjut Solhan, didesain sedemikian rupa area bukaan dengan cara memaksimalkan angin dan cahaya alami masuk kedalam bangunan.

“Jadi, pencahayaan pada masjid akan banyak memanfaatkan pencahayaan matahari secara maksimal dengan bukaan yang lebar,” imbuhnya.


Tidak hanya itu, Masjid Raya yang dibangun dengan anggaran sebesar lebih dari Rp243 miliar itu, juga akan menggunakan energi alternatif solar Panel pada atap, dengan tujuan meminimalkan penggunaan energi listrik PLN.

“Sekeliling masjid ada danau buatan, yang mencirikan masyarakat Banjar yang sangat dekat dengan air, sehingga membuat lingkungan Masjid Raya itu nantinya semakin asri dan sejuk,” papar Solhan. 

Seperti diketahui, Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor, meletakan batu pertama menandai dimulainya tahapan pembangunan Masjid Raya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang berada di kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kota Banjarbaru, Kalsel.

Masjid yang direncanakan memiliki lahan seluas 11,75 Ha itu terdiri dari bangunan utama dan bangunan pendukung. Anggaran yang disiapkan untuk pembangunannya mencapai Rp243,9 miliar lebih, dengan skema pembayaran multi years dari APBD Kalsel Tahun Anggaran 2023-2024.

Baca Juga :  Kebakaran Terjadi lagi di Martapura Timur, Camat Guslan Beri Bantuan

“Masjid Raya yang akan jadi kebanggaan umat Islam di Kalsel itu nantinya memiliki daya tampung sebanyak 3.000 jemaah,” pungkasnya.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Berita Terkini

BANNER 728 X 90-rev

You cannot copy content of this page

Apa yang bisa kami bantu?