Meski Sibuk Tangani Kasus Besar, Fauzan Tetap Ngajar dan Nongkrong Bareng Teman

Redaksi - Selasa, 29 April 2025 | 14:25 WIB

Post View : 60

Pengacara senior Dr Fauzan Ramon SH MH, saat mengajar mata kuliah Peradilan Pidana di STIHSA Banjarmasin, Senin (28/04/2025). (BANUATERKINI/Sayri)

Di saat banyak profesional hukum sibuk memburu prestise dan bayaran tinggi, Dr. Fauzan Ramon, SH, MH justru memilih jalur yang berbeda. Meski dikenal sebagai pengacara kondang yang menangani kasus-kasus besar dari Kalimantan Selatan (Kalsel) hingga berbagai daerah di Indonesia, ia tetap setia mengajar di bangku kuliah dan menyempatkan diri nongkrong santai bersama sahabat-sahabat lamanya.

Banuaterkini.com, BANJARMASIN - Bagi Fauzan, hidup bukan sekadar mengejar karier, tetapi tentang memberi makna dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Seperti pada Senin (28/04/2025) lalu, suasana rumah makan soto Banjar sederhana yang berada di pinggiran Jalan Jahri Saleh Banjarmasin tampak lebih hangat dari biasanya.

Beberapa pria paruh baya terlihat tertawa lepas di meja panjang yang dipenuhi air mineral, teh, dan sepiring makanan khas Banjarmasin.

Fauzan Ramon saat mengajak sahabatnya semasa kuliah makan-makan. (BANUATERKINI/Sayri)

Di tengah-tengah mereka, tampak sosok berbusana putih sederhana, dialah Fauzan Ramon, pengacara senior yang biasanya tampil tegas di ruang sidang. Namun siang itu, ia hanya teman biasa yang sedang menertawakan kenangan masa lalu.

“Inilah momen yang tak tergantikan,” ucap Fauzan dengan senyum ringan. “Kalau hanya kerja dan menangani kasus tanpa sempat berkumpul dengan sahabat, rasanya ada yang kosong,” ujarnya kepada Banuaterkini.com.

Fauzan Ramon bukan nama asing di dunia hukum Kalimantan Selatan. Rekam jejaknya panjang, dari membela terdakwa kasus pidana berat hingga menjadi penasihat hukum perusahaan-perusahaan besar.

Tapi di balik itu semua, pria bergelar doktor dari Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini juga dikenal sebagai dosen yang aktif mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan Adam (STIHSA) Banjarmasin.

Suasana ruang kelas saat Fauzan Ramon mengajar mata kuliah Peradilan Hukum di STIHSA Banjarmasin. (BANUATERKINI/Sayri)

Setiap pekan, Fauzan menyempatkan diri berdiri di depan mahasiswa-mahasiswanya, membawakan mata kuliah Hukum Pidana dan Praktik Peradilan Pidana.

Meski jadwal persidangan dan konsultasi hukum padat, ia tak pernah mengeluh. Justru, ruang kelas menjadi tempat ia ‘menyegarkan’ idealismenya.

“Kalau saya hanya sibuk di ruang sidang, saya bisa saja lupa bahwa hukum itu untuk manusia, bukan sebaliknya. Di ruang kuliah, saya belajar kembali dari pertanyaan mahasiswa, dari semangat mereka, dari ketulusan mereka menimba ilmu,” ujarnya penuh makna.

Menurut Fauzan, berbicara di hadapan kelas, berinteraksi hangat dengan para mahasiswa, dan bahkan saat disalami satu per satu seusai perkuliahan, membawa atmosfir yang berbeda dalam perjalanan karirnya sebagai pengacara.

Tak sedikit mahasiswa yang mengungkapkan kekaguman terhadap sosoknya, bukan hanya karena ilmunya, tetapi karena kedekatannya.

“Pak Fauzan bukan dosen yang menggurui, tapi seperti mentor sekaligus orang tua. Kami bisa berdiskusi soal apapun, bahkan hal-hal di luar pelajaran,” ujar Said, salah satu mahasiswa STIHSA.

Fauzan bahkan mengaku sering di hubungi mahasiswanya, kalau dia tak bisa hadir dan mengajar di kelas, karena kedekatannya dan rasa haus ilmu yang dirasakan mahasiswanya.

Namun keunikan Fauzan tak berhenti di sana. Di tengah gempuran digitalisasi, urbanisasi, dan gaya hidup individualis, ia tetap menjaga silaturahmi secara fisik.

Ia pun sering menyempatkan bertemu dengan sahabat-sahabat sekolahnya, teman kuliah lama, hingga rekan-rekan yang kini sudah terpencar dalam profesi dan kehidupan masing-masing.

Dan tempat bertemunya bukan di hotel berbintang atau kantor formal, melainkan warung makan sederhana dengan meja kayu dan kursi plastik biru.

“Bagi saya, tempat bukan masalah. Yang penting esensinya yaitu menjaga koneksi batin dan menjalin hubungan yang tulus,” ungkapnya.

Fauzan menyadari bahwa silaturahmi bukan hanya bagian dari budaya, tapi juga bagian dari keseimbangan hidup.

Ia menyebut pertemuan itu sebagai “pengingat arah”, bahwa sehebat apa pun seseorang di karier, ia tak boleh lupa dari mana ia berasal, dan kepada siapa ia pernah berjalan bersama.

Dari ruang sidang hingga ruang kuliah, dari pengacara hingga sahabat lama, Fauzan Ramon menenun peran-peran hidupnya dengan satu benang merah yaitu ketulusan.

Ia tidak hanya berbicara soal keadilan di depan hakim, tapi juga menanamkan nilai-nilai itu di hati mahasiswa dan menjaganya dalam kehidupan sosial.

Melalui kisah Fauzan yang juga masih menjabat sebagai Ketua Umum YLKI Kalsel ini sangat sederhana namun sangat kuat, yaitu bahwa kesuksesan sejati bukanlah soal pencapaian pribadi, tetapi tentang bagaimana kita bisa tetap bermanfaat, merangkul yang muda, dan tak melupakan yang lama.

Laporan: Ahmad Kusairi
Editor: Indra Jaya
Copyright @Banuaterkini 2025

Halaman:
Baca Juga :  LazisMu Banjarmasin Bagikan 150 Paket Sembako dan Beasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Berita Terkini

BANNER 728 X 90-rev