Home » Tokoh

Kisah Sukses Prof. Jakaria: Dari Anjir Menjadi Guru Besar IPB

Redaksi - Jumat, 25 April 2025 | 23:15 WIB

Post View : 278

ILUSTRASI: Sosok Prof Dr Jakaria, pria kelahiran Desa Anjir ini sukses menjadi Guru Besar di Kampus IPB. (BANUATERKINI @2025)

Prof. Dr. Jakaria, S.Pt., M.Si., Ir., IPM, seorang akademisi terkemuka dan Guru Besar di Fakultas Peternakan IPB, memiliki perjalanan hidup yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga membuka mata banyak orang tentang kekuatan tekad dan kerja keras.

Banuaterkini.com, GAMBUT, KABUPATEN BANJAR - Dari sebuah desa kecil di Anjir, Marabahan, hingga mencapai posisi puncak di dunia akademik, perjalanan Prof. Jakaria penuh dengan tantangan dan keberhasilan yang luar biasa.

Kini ia tidak hanya dikenal di dunia akademik, tetapi juga di kalangan masyarakat peternakan Indonesia sebagai sosok yang berkontribusi besar dalam riset genetika ternak. 

Perjalanan Hidup yang Penuh Liku

Prof. Jakaria lahir di Anjir, Kilometer 21, sebuah daerah yang jauh dari gemerlap kota besar.

Dari masa muda yang sederhana, impian Prof. Jakaria adalah menjadi seorang PPL (Petugas Penyuluh Lapangan).

Namun, takdir membawa hidupnya ke jalan yang berbeda. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMK MA Pleihari, ia mencoba peruntungan dengan ikut pamannya yang menjalankan usaha pakaian obral di Palangkaraya.

Namun, dunia pendidikan tidak membiarkannya pergi begitu saja.

Suatu hari, ia bertemu dengan gurunya di pasar yang mengingatkannya untuk kembali dan melanjutkan pendidikan.

Rektor UNUKASE, Dr Abrani Sulaiman menyerahkan penghargaan kepada Prof Jakaria usai menyampaikan materi di UNUKASE. (BANUATERKINI/Huams Unukase/MPD).

"Saya diminta kembali ke Pleihari untuk mengambil ijazah saya, dan dari sana saya mulai bekerja sebagai penjaga perpustakaan," kenang Prof. Jakaria, seperti dituturkannya kepada Humas UNUKASE, Muhdi, Jumat (25/04/2025).

Pekerjaan itu memberinya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, meskipun dengan gaji yang rendah.

Dengan tekad yang kuat, Prof. Jakaria memanfaatkan kesempatan untuk mendaftar ke program Diploma 2 di Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Paman saya mengirimkan uang 15.000 lewat wesel pos untuk membantu biaya kuliah saya," ungkapnya.

Meskipun begitu, Jakaria muda tetap menjalani kehidupan yang penuh tantangan, termasuk menjual koran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama kuliah. 

Jadi Guru Besar IPB

Tidak lama setelah memulai kuliah di IPB, Prof. Jakaria mulai menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia akademik.

Ia tidak hanya fokus pada studi, tetapi juga terlibat aktif dalam riset yang mengarah pada pengembangan genetika ternak, khususnya dalam bidang pemuliaan sapi.

Kerja kerasnya membuahkan hasil yang luar biasa. Prof. Jakaria lulus dan kemudian bekerja di IPB, tempat di mana ia terus berkembang hingga akhirnya meraih gelar Guru Besar di Fakultas Peternakan.

Kenangan foto bersama Rektor dan Dosen UNUKASE usai memberikan materi tentang strategi lolos jurnal internasional bereputasi. (BANUATERKINI/Humas Unukase/MPD)

Sebagai akademisi, Prof. Jakaria kini dikenal sebagai pemimpin dalam riset genetika ternak, dengan lebih dari 18 artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional.

Ia juga memimpin berbagai proyek riset, seperti pengembangan sapi potong premium melalui program cross-breeding dengan sapi Wagyu, serta riset terkait pengembangan sapi Bali yang dapat menghasilkan daging berkualitas tinggi.

"Kesuksesan itu datang dari kerja keras dan keinginan untuk selalu belajar. Tidak ada kata terlambat untuk memulai," ungkap Prof. Jakaria, yang kini tidak hanya menjadi dosen tetapi juga pemimpin dalam berbagai organisasi profesional, termasuk sebagai Associate Editor untuk Tropical Animal Science Journal.

Jadi Inspirasi bagi Generasi Muda

Kisah hidup Prof. Jakaria menjadi bahan motivasi bagi banyak orang, terutama generasi muda yang ingin berkarier di dunia akademik atau peternakan.

Dalam workshop yang digelar oleh Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE) pada Kamis (24/04/2025), Prof. Jakaria berbagi pengetahuan dan pengalamannya.

Panjang lebar ia mengisahkan bagaimana menembus jurnal internasional bereputasi, serta bagaimana memulai riset yang dapat memberikan kontribusi pada ilmu pengetahuan global.

"Jangan hanya menulis untuk lulus, tulislah untuk diakui dunia," ujar Prof. Jakaria saat memberikan pelatihan kepada dosen-dosen UNUKASE.

Selain aktif di dunia riset dan publikasi ilmiah, Prof. Jakaria juga sangat berkomitmen dalam penulisan buku-buku yang memberikan kontribusi positif di bidang peternakan.

Salah satu bukunya, Buku Praktis: Pendampingan Sapi Indukan di Indonesia, memberikan panduan bagi peternak dalam meningkatkan produktivitas ternak.

Buku lainnya, Profil Genetik Domba Lokal Indonesia dan Strategi Pengembangannya, memberikan wawasan tentang keberagaman genetik domba lokal dan bagaimana cara mengembangkan potensi tersebut untuk mendukung peternakan di Indonesia.

Buku Pedoman Pengelolaan Sentra Peternakan Rakyat juga hadir sebagai panduan untuk mengelola peternakan rakyat secara efisien dan berkelanjutan.

Terbaru, ia menulis Analisis Genom Ternak, yang memberikan pengetahuan mendalam tentang penerapan analisis genom dalam pengembangan ternak.

Selain buku, Prof. Jakaria juga memiliki sejumlah paten yang berfokus pada inovasi dalam peternakan.

Salah satu patennya tentang Metode Seleksi Sifat Kualitas Daging Pada Sapi, menggunakan penanda molekuler yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas daging sapi, sebuah terobosan besar bagi industri peternakan.

Tak hanya itu, ia juga mematenkan karyanya yang berkaitan dengan seleksi domba dengan kandungan odor rendah, bertujuan untuk menciptakan domba yang lebih berkualitas dari segi rasa dan bau.

Teranyar, ia mengembangkan metode untuk menentukan otot ganda pada sapi silangan, yang dapat meningkatkan efisiensi produksi daging sapi berkualitas.

Dengan berbagai karya dan inovasi yang telah ia hasilkan, Prof. Jakaria terus memberikan kontribusi besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan sektor peternakan di Indonesia.

Semangat Prof Jakaria untuk terus berkontribusi pada dunia akademik tak diragukan lagi.  Melalui kisah suksesnya, Prof Jakaria mengingatkan bahwa latar belakang tidak pernah menjadi penghalang untuk meraih impian, asalkan kita terus berusaha dan berbagi ilmu dengan sesama.

Perjalanan yang Penuh Arti

Prof. Jakaria, yang kini menjabat sebagai Kepala Divisi Pemuliaan dan Genetika Ternak di Fakultas Peternakan IPB, tidak hanya berhasil di dunia akademik, tetapi juga berkontribusi besar dalam penelitian dan pengembangan industri peternakan di Indonesia.

Perjalanan hidupnya yang dimulai dari Anjir, sebuah desa kecil di Kabupaten Marabahan, kini menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang yang ingin mengubah hidup mereka.

Seiring perjalanan karier akademiknya, Prof. Jakaria juga sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan penting di tingkat nasional dan internasional.

Ia banyak terlibat dalam berbagai organisasi dan lembaga yang berfokus pada pengembangan peternakan, seperti menjadi anggota Komisi Bibit Nasional Kementan RI (2024-2029), anggota tim penilai penetapan dan pelepasan rumpun/galur hewan, serta tim pakar/pendamping BPTU-HPT Dirjen PKH Kementan RI.

Semua ini membuktikan bahwa kontribusinya tidak hanya terbatas di dalam dunia kampus, tetapi juga berdampak pada kebijakan dan inovasi peternakan di Indonesia.

Selain itu, Prof. Jakaria juga memegang peran penting di almamaternya, menjadi Sekretaris Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (2021-2023), serta Sekretaris Senat Fakultas Peternakan IPB (2017-2027).

Bahkan Prof Jakakria dipercaya untuk menjadi Ketua Komisi Kerjasama Fakultas Peternakan IPB (2025-2027), memperkuat jejaring dan kolaborasi antara fakultas dan berbagai lembaga lainnya.

Melalui karya-karya ilmiah yang mendalam dan riset inovatif, Prof. Jakaria tidak hanya membangun fondasi pengetahuan di bidang genetika dan pemuliaan ternak, tetapi juga memperkenalkan solusi-solusi praktis yang memberikan dampak positif pada sektor peternakan lokal dan global

Bagi Prof. Jakaria, kesuksesan bukanlah tentang kemewahan atau pengakuan, tetapi tentang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan ilmu pengetahuan.

"Saya ingin karya-karya saya memberi dampak positif, bukan hanya bagi dunia akademik, tetapi juga bagi masyarakat peternakan Indonesia," pungkasnya.

Laporan: Ahmad Kuusairi
Editor: Indra Jaya
Copyright @Banuaterkin 2025

Halaman:
Baca Juga :  Mantan Sekda Kalsel Prof Ismet Ahmad Tutup Usia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Berita Terkini

BANNER 728 X 90-rev